Di kota kecil yang kerap gelap saat jam makan malam, Raka—siswa SMA dari keluarga serba pas-pasan—berusaha menyeimbangkan kerja di pabrik bata dan panggilan menulisnya. Ditantang ayah yang pragmatis dan disemangati Bu Ratri serta Sinta, ia menulis esai “Rumah yang Menyimpan Bau” tentang hal-hal paling dekat: dapur, gang, hujan, dan retakan plafon. Tawa teman-teman—bahkan perundungan digital—nyaris memadamkan keberaniannya, hingga sakit ayah, radio tua, dan solidaritas para pekerja memberi Raka sudut pandang baru: menulis bukan pelarian, melainkan cara bertahan yang adil. Ia mengirim naskah, tidak menjadi juara utama, tetapi suaranya dimuat dan didengar; hubungan dengan ayah melunak, klub menulis lahir di sekolah, dan ejekan kehilangan tempat untuk menetap. “Api kecil” yang mula-mula berupa lilin di kamar berubah menjadi keyakinan: tawa orang bisa lelah, tulisan yang jujur cenderung tinggal.
Additional information
| Penerbit | |
|---|---|
| Penulis | |
| ISBN | 978-634-7456-19-9 |
| EISBN | 978-634-7456-18-2 |
| Format | 14×20.5 |
| Halaman | VIII+88 |
| Tahun | 2025 |

